Jumaat, 22 Februari 2013
Gadis Bertudung Itu (2013)
Ahad, 6 Februari 2011
Menangis Di Bulan

Duduknya diantara Barat dan Timur
Bertentangan mata
Dengan secangkir air hitam
Mata berdua berhimpun menjadi satu
Seakan berpedang mereka
Senyum itu dihirup sedalam mana cangkir dipegang
Bagi dia lelaki matahari terbit di barat
Dia perempuan pula sangka terbit di selatan
Berpedang lagi mereka
Ada yang Tanya siapa yang salah
Lantas!
Tangisan kedengaran kecil
Deruan hembusan hilang
Rasa biasa saja
Barangkali menangis sudah mereka….
Apiz-rage-
06.02.11
(A111/kk12/um)
Selasa, 30 November 2010
Terpekik Si Gadis Sunti

Sebaris akal di terima muka
Di lilit rimbunan akar halus kecil
Tersipu dek alunan bayu menghembus bibir
Terkedu si gadis berbadan kecil
Seakan seperti alahan menjalar bibit-bibit
Tiap bait ditocang rapi
Semerdu mungkin bait di tiup sepi
Tanpa meninggalkan bunyi yang tidak tabii
Suara Si gadis sunti
Terpekik hampir tercekik
Menceritakan tiap baris akal logika
Tanpa berkira-kira mula bodohnya
Bait diri
Akal kurang tinggi
Bodoh mencakar langit
Itulah dia si Gadis sunti…
Lalu dia tersenyum
Diam, kaku seperti tidak bernyawa
Tapi rimbunan akar halus tetap dibaja
Tiada pekikan
Tiada lolongan
Perlukah kau berteriak gadis sunti?
Kerana tiada siapa akan mendengari
Atau lebih baik kau mati…
Kerana kata itu lebih cepat membunuh dari pisau yang aku miliki
apiz-rage-
30/11/10
(A111/kk12/um)
Isnin, 18 Oktober 2010
Nostalgia Perempuan ‘74’

Perempuan
74 bidaan dalam sekelip mata
Menghunus apa saja kemungkinan yang ada
Tanpa mengira usul periksa
Diredah perihalnya asal sampai matlamatnya
Kepedulian manusia seperti mana 74
Satu – satu kemudian menjadi dua
Apatah lagi kepada tiga seterusnya
Kiraan bilanganya menjadi nyata Perempuan 74
Nostalgia Mereka
Katanya “Aku perempuan biasa!”
Walhal dia perempuan 74!
Apa kiraanya? satu – persatu sampai bila
Kabur mata, hilang pandangan
Terkira-kira sewaktu malam bagai kupu-kupu terbang di malam
Tersangkanya hilang tapi ada!
Peduli resah bimbang terbang
Peduli resah bimbang terbang
Peduli resah bimbang terbang
Atas langit udara segar
Dulu-dulu zaman mereka
Bilangnya perempuan semuanya bergegar!
Nostalgia Perempuan ‘74’ berstokin pendek sebelah…
apiz-rage-
18/10/10
(A111/kk12/um)
Jumaat, 1 Oktober 2010
Jika Kau
Berkali-kali menyebut namanya
Berkali-kali menegur saja
Berkali-kali semua sudah
Tapi berkali-kali sama saja
Lakaran puitis berlagu-lagu
Menunggu-nunggu sampai bila
Kalau-kalau kontang juga
Macam tiada guna
Jika-jika kau orangnya
Kenapa-kenapa begitu saja
Mungkin-mungkin tidak-tidak
Macam hampa saja
Sekali lagi macam sama
Puas hati diam gulana
Bolehlah saja-saja
Pening-pening tidak tau tulis apa
Kalaulah sekali kau kekasih
Boleh diam-diamkah?
Harus, wajib, perlu?
Aku pun tidak tahu…
Binggung…
apiz-rage-
13/02/09
(e212/kk3/um)
Isnin, 27 September 2010
Seratus Titik Pen Hitam
Panas membawa diri untuk bergelut
Papan-papan kosong diding berkerut
Jiwa sehampir kosong kontang
Seratus titik pen hitam terus berpaut
Lantas seakan angin kebuntuan melanda
Bibit-bibit sepi bertiup
Semacam bertanya apa yang patut
Dibiarkan diri berhentak seperti ingin maut!
Lebih kalau aku menganggarkan
Beratus-ratus titikan hitam
Seperti sebelumnya di dinding-dinding kosong kontang
Tertulis angka yang tidak terjangka
Dititikkan
Dimatikan
Dihentikan
Didiamkan
Titik-titik, Titik-titik, Titik-titik!
Titik pen hitam (Seratus)
Teriakkan jumlahnya (Seratus)
Tundingkan jarinya SERATUS! “Tidak Tertunding”
Apa yang kau aku tuliskan?
(Lantas Menjawab) “Seratus Titik Pen Hitam-Nota Tinggalan Buat Kau!”
apiz-rage-
26.09.10
(A111/kk12/um)
Rabu, 25 Ogos 2010
Kadang kala Bila Manusia Leka Dengan Masalah
Secara halus mahupun kasar
Masalah lah yang paling aku gusarkan
Tiap atau acap kali aku mrlihat blog-blog manusia
Selalunya aku terfikir seketika bila berada di tempat mereka
Gusar atau gembira
Seakan semuanya aku cuba merasa
Leka atau peka
Tidak sedikit pun aku terasa panjang akal mereka
Bila bosan blog sendiri jadi peneman
Bila Marah blog sendiri jadi sasaran
Bila gembira Blog sendiri dibesar-besarkan
Yalah BLOG Sendiri siapa yang heran?
Terogol atau tidak maruah mereka
Siapa tahu kan?
Tersadai cerita mereka mungkin ada yang menyebar
Terhunus abjad mudah tentu ada menafsirkan
Mungkin ada secara literal mungkin juga abnormal...
Sebenarnya aku saja untuk berbicara
sebab tiada apa lagi boleh diungkapkan
BLOG sendiri tersadai lama
Sebabnya bukan aku pengamal teknologi masa
Apa saja terkeluar dari minda
Akan ku tulis semuanya
Tergadai atau tersadai
Siapa kamu menghakiminya?
Aku tidak tahu apa aku tulis sebenarnya...
Asal Blog ini tidak tersadai lesu macam orang kata
Rabu, 9 Jun 2010
Ceritaku Yang Haru Biru
Satu masa
Setiap detik dibilang hampir setara
Mengira lamanya waktu
Menadah cerita yang haru biru
Sendirian duduk
Terkira-kira waktu dilepasi
Terangguk kacau fikiran
Bermacam imaginasi berlawanan
Bingung
Kaku seperti patung
Tidak mengerti
Cerita-cerita kononnya
Terbuang diri
Sedalam-dalamnya paya
Isinya terlalu banyak buaya lapar
Lagi terdiam kaku
Jadilah patung terbiar diriku
Masanya kini
Terbeku hati
Diamku sendiri
Menyakat hati naluri
Siapa-siapa dijauhi
Maka jika diriku sendiri
Akanku berfikir sendiri
Haru biru
Cerita diriku…
09/06/10
(E213/kk3/um)
Khamis, 8 Oktober 2009
LarakosonGbenTaknya!!!
Semacam aku tidak sangka
Pergi...
Semudah itu bentaknya
Hilang...
Boleh saja rupanya
Pudar...
Kenapa tidak agaknya
Risau...
Ingin berteriakan semaunya
Gagal...
Bukan cinta dia milikku
Pasrah...
Aku harap ia jangan berlaku
Bodoh...
Siapa yang boleh tandingiku
Sesak...
Tidak bingit tanpa lagu
Cinta...
Aku harap hilang selamanya dalam diriku.....
Kamu...
Lihatlah ini untukmu
Rasa...
Puaskah hatimu???
apiz-rage-
(e212/kk3/um)
08.10.09
Ahad, 9 Ogos 2009
Meniti Kasih Di Rumah Kampung
Menanti di tepi tingkap
Berdiri di hadapan pintu
Kadang sepasti mungkin tersungkur lesu
Tatkala anak sudah berjaya
Mengapai-gapai bintang di angkasa
Berkasihkan isteri/suami kononnya bahagia
Terbiar pula kasih ibu yang semakin menderita
Walhal dulunya
Anak itu kecil tiada apa-apa
Sewaktu ayah sudah tertanam jasadnya
Si ibu itulah menjadi segalanya
Siapa sebenarnya manusia
Kalau-kalau ibu sendiri tiada dihirau
Jangankan menjenguk setahun dua
Gangang telefon haram bagi anaknya
Ibu semakin hari semakin pudar
Terhiris hati rindu
Terbelah jiwa kecewa
Anak…anak…anakku
Sanggup kau biarkan ibumu
Terlentang lesu meniti kasih di rumah itu…
apiz-rage-
09/08/09
(e212/kk3/um)
Rabu, 5 Ogos 2009
Puisi Buat Dia
Mentari timbul tengelam
Bulan menjelma kalanya hilang
Angin berlalu saja pergi
Seakan-akan hari ini
Perasaan sukar untuk berkata
Fikiran kian saja terangkat tinggi
Bila terus mengulangi gambaran dia
Satu persatu ayat cuba ditolak
Tertolak kembali
Tanpa apa-apa
Terlalu sukar untuk ku bayangkan
Dalam dilemma sekurun lamanya
Mungkin aku pasti
Atau mungkin tidak
Tapi
Teruskan saja usahanya
Walau apa pun jawabnya
Bukan ladang gandum aku janjikan
Bukan ladang tebu yang aku uar-uarkan
Tapi kasih ini cuba ku kotakan
Walau suda berkali bermain di fikiran
Puisi ini buat dia
Kerana sudah lama ku simpan untuk ku keluarkan
Biar apa saja mendatang-datang
Akan ku simpan setiap ayat disusun setara….
apiz-rage-
05/08/09
(e212/kk3/um)
Selasa, 4 Ogos 2009
Keliru
Lingkaran hidup
Tanpa suatu pun had masa
Mencerca-cerca diri siapa
Di bumi permata jangkauan indah
Sisik-sisik bangsa
Bermegah-megah
Tercungap jua ia
Caci
Gadoh
Bodoh
Keliru
Bangsa siapa bangsa
Siapa bilang ini untuk satu saja
Siapa tengking aku itu aku tiada sesiapa
Aku, kau sama tiada beza
Negara ini bangsa Malaysia yang punya!
Mungkin politiking Cuma
Tengking, baling, ah!
Semua bodoh-bodoh saja ya!
Kenapa? oh kenapa?
Semakin hari semakin terserlah
Siapa Tersepit
Siapa yang terhimpit
Kacau bilau nampaknya
Aduh!
Bertapa Sakitnya…
Bilang meraka tolong bangsa
Apa?
Mana?
Benarkah?
Yang tau-tau saja Bangsa sendiri makan bangsa
Negara sendiri pun jadi papa kedana
Perangkap?
Jerut?
Memang semuanya sama
Tanpa apa-apa
Persoalan…
Siapa kita
Untuk apa?
Juga bagaimana?
Melayu?
Cina?
India?
Ya-ya…mungkin bumiputera…
Gadoh
Ini Negara
Siapa yang punya?
Gelap
Kamar hitam
Terang
Bilik cerah
Bangsa kita!!
Tau-tau Begitulah!!
Gadoh
Keliru
Corak muda anak Malaysia
Bangsa apa di puncak dunia?
Dari mana asal ia?
Ini bukan aku punya
Bukan juga Kau yang punya
Milik siapa sebenarnya?
Jerami kecil mencantum muka
Pantas terjahit anak mata
Bangsa kebanggaan
Bangsa kesedaran
Bangsa Malaysia
Aku hidup dalam agama
Aku hidup bukan sendiri
Aku hidup untuk bahagia
Aku hidup sebagai rakyat satu Malaysia…
apiz-rage-
04/08/09
(e212/kk3/um)
Isnin, 13 Julai 2009
Tudung Hitam Buat Dia
Deretan kedai-kedai kecil
Hampir berpuluh jumlahnya
Kain-kain sutera, koton, atau apa saja
Tergantung juga tersidai
Anggun seperti pesta kota
Panahan terik matahari itu
Diri kecil ini di tepi kota besar
Tersunggul sepi
Anak mata kehitaman
Meliar terus mencari-cari suatu yang tidak pasti
Susuk tubuh putih kecil
Kemas terbalut kain halus putih
Melitupi hampir-hampir saja seluruh kepala
Baik-baik saja nampaknya
Bukan aku sengaja!
Terus lagi si kecil membelek
Mata ini tidak lepas-lepas
Kerasukkan agaknya
Panahan mata seksa rasanya
Huh!
Bingit!
Helaian kain hitam
Sama saja seperti penutup kepalanya
Kosong tanpa apa pun
Tapi cantik baginya
Menawan untukku
Mau saja diri ini bersuara
“Ambillah untukmu”
Tapi aku tiada kuasa
Tapi tetap aku bernyawa
Kalah saja berhalusinasi
Kalaulah
Kalaulah tudung hitam itu ku bagi padannya
Sudah pasti dia berkata
“Siapa kamu? Kenapa agaknya?”
apiz-rage-
13.07.09
(e212/kk3/um)
Isnin, 1 Jun 2009
Mengira Bintang Di Langit
Setiap malam
Pudar atau malap mungkin terang
Tanpa bulan atau bersinar ia
Mata kuyu melihat-lihat
Awanan gelap mungkin begemerlapan
Mengira tiap cahaya yang bersinar
Hujan menititskan umpama air mata
Membasahi tiap inci bumi indah
Kabus putih angannya
Sinar itu tiada seperti biasa
Ya Tuhanku
Serikanlah malam-malamku dengan limpah cahayaMu
Bagai kupu-kupu di taman
Kelip-kelip malam
Bersinar terang gemilang
Manusia seperti diriku
Mau saja melihat yang indah-indah
Seperti bintang-bintang
Yang tak akan malap seperti semalam
Dingin sejuk membeku
Hati atau diri
Tetap Menunggu tidak kira
Di tepian tingkap
Terus menerus
Mengira-ngira bintang di langit
Malap atau terang
Pudar atau bersinar
Tanpa malam tidak mungkin siang
Berkira-kira
Bintang-bintang…
apiz-rage-
Likas,
01/06/09
Rabu, 29 April 2009
Terbang
Sampai bila lagi semuanya
Harusku hadapi
Dengan tenang atau lagi celaru
Menanti esok pasti
Buntu otak berimaginasi
Sampai pagi nanti
Harusku berjaga dari tidur
Membayar hutang pagi tadi
Lena terlelap seakan berfantasi
Sampai petang nanti akanku hadapi
Abjad-abjad kecil
Makin dirapati
Atau meratapi
Ruangan kosong kecil itu
Sampai dua mei lagi
Fikiran satu untuk menghadapi
Berperang psikologi
Otak-otak perah sedalam mungkin
Ruangan penuh teori-teori
Sampai habis nanti
Aku harap aku terus berimaginasi
Mungkin berfantasi
Atau terus-terus saja
Terbangkan fikiran kusutku ini
apiz-rage-
29/04/09
(e212/kk3/um)
Rabu, 25 Februari 2009
Siapa Aku Tuhan?
Sampah
Atau kaca
Mungkin tiada guna
Rahsia
Rahsia diri
Siapa tahu
Agak-agak?
Sangkakan diri ini apa
Boleh-boleh saja semuanya
Mau ini
Mau itu
Apakah?
Jiwa ini kosong
Bila lagi siapa diri ini
Tidak tahu
Sebenarnya?
Harapkan bulan
Cahaya malap
Bulan segan
Tuhan
Siapa aku sebenarnya?
Manusia jenis apa?
Aku binggung
Manusia
Ya aku manusia
Tapi
Siapa aku sebenarnya Tuhan?
Kembali kosong
Allahuakbar…
apiz-rage-
25/02/09
(e212/kk3/um)
Selasa, 24 Februari 2009
Hilangnya Seorang Primadona
Dikabarkan berita
Kepada malam-malam
Dimana ia hujan
Terus terbang kehilangan
Jalan kecil itu kotor
Sampah dimana-mana
Kiri kanan
Orang tepi
Terus berkata-kata
Berpaling sedikit
Awan hitam tiada
Lampu neon malap
Serangga terbang kabur
Tidak kenampakan
Lagi dilupakan
Semalaman
Cerita seorang primadona
Kedengaran terus
Tapi bila pelangi hilang
Tiada bicara
Hilang orang
Hilang nama
Siapa dia
Seorang primadona
apiz-rage-
24/02/09
(e212/kk3/um)
Khamis, 19 Februari 2009
Dialog Perasaan
Pagi buta
Tanpa cahaya
Gelap gelita
Sekian Cuma
Renung-renung tanpa arah
Rasa hati gundah gulana
Cerung-cerung kosong
Suka hati mau bilang apa saja
Tengok sikit
Tak pandai hilang
Tak pernah lupa
Kenangan agaknya
Pensil hitam
Tumpul tiada guna
Rosak-rosak
Kertas putih
Dapat sisa pula
Faham angguk-angguk
Binggung geleng-geleng
Bodoh tunduk bawah
Bahalol “terlupa bukan sengaja”
“Aku”
Baginya hilang
“Dia”
Kenangan agaknya
Bagus!
“Pandaikan aku”
“Bodohlah KAU!”
apiz-rage-
19/02/09
(e212/kk3/um)
Khamis, 12 Februari 2009
Wajah
Mimpi itu barangkali enak
Tidur pula Semacam dianaktirikan
Porak peranda semuanya
Tiada apa lagi yang tinggal
Cuma lakaran wajah-wajah
Lihatnya hari-hari
Semacam tiada guna
ANak kecil
Perawan muda
Semuannya sama
Bila ditanya dik bulan muram
Malam-malam mana mereka
MAti juga akal
Wajah itu semakin menghilang
Terang-terangan
Perang-perangan
Tentang-tentangan
Lawan-lawanan
Ah! mudah-mudah saja
Matikan wajah itu semua!
Barangkali lagi
Sudah mati
Tiada sepi
Biarlah wajah-wajah itu pergi…
apiz-rage-
12/02/09
(e212/kk3/um)
Selasa, 10 Februari 2009
Antara Kita
Sepanjang perjalanan
Hidup ini semakin terulit garang
Mengenangkan…
Sisa-sisa malam
Yang pastinya semakin hilang
Di sebuah perhentian indah
Di iringi lalang-lalang kelam
Yang Melambai-lambai kisah
Cerita Kita berdua
Dan Aku Duduk sepi di pohonan rendang
Berjujuran ranting-ranting rapuh
Mengisahkan duka antara kita
Yang semakin tiada apa-apa
Bilang mereka itu saja
Apa saja mereka bilang!
Peduli apa bilang mereka!
Bukankah kita saja yang perlu berbicara
Mau-mau terus
Kedengaran cerita berbisa mereka!
Sampai malam-malam
Aku
Aku
Aku
Tapi…
Semacam tiada apa-apa
MAunya aku duduk di pantai
Melihat kamu berlari ke kaki langit petang
Melompat-lompat mencapai awan
Aku pula duduk menunggu
Sinar horizon semakin malap
Haruskah aku belari beteriakan!
Di antara kisah kita berdua
Aku
Kamu
Mereka bilang sama saja
Tapi nyata kita berbeza
Biarlah di taman itu
Berjujuran kaca-kaca kecil
Yang hancur
Lagi enak jika lebur
Menyahabiskan segalanya
Cerita-cerita
Kisah Antara Kita….
Dan
Biarlah kita berputih air mata…
apiz-rage-
09/02/09
(e212/kk3/um)

